Minggu, 26 Juli 2009

Pertemuan Imam Husain as Dengan Umar Bin Sa'ad

Kisah Hari Ashura 10 Muharram 61 H
Syahidnya Imam Husein di Pertempuran Karbala

Bab-03. Pertemuan Imam Husain as Dengan Umar Bin Sa'ad

Demi menuntaskan hujjahnya, Imam Husain as menyampaikan pesan kepada Umar bin Sa'ad bahwa beliau ingin bertemu dengannya. Umar setuju. Maka, diadakanlah sebuah pertemuan antara keduanya. Umar bin Sa'ad ditemani 20 orang dari pasukannya sebagaimana Imam Husain as juga ditemani oleh 20 pengikutnya. Namun, di tengah pertemuan ini keduanya memerintahkan semua pengikut masing-masing itu untuk keluar dari ruang pertemuan kecuali dua orang dari mereka masing-masing. Dari pihak Imam Husain yang dizinkan untuk terus terlibat dalam pertemuan adalah Abbas dan Ali Akbar as, sedangkan dari pihak Umar bin Sa'ad yang diperbolehkan tinggal adalah puteranya, Hafs, dan seorang budaknya.

Dalam pertemuan 6 orang ini terjadi dialog sebagai berikut:

Imam Husain as: "Hai putera Sa'ad, adakah kamu tidak takut kepada Allah, Tuhan yang semua orang akan kembali kepada-Nya. Kamu berniat memerangiku walaupun kamu tahu aku adalah cucu Rasulullah, putera Fatimah Azzahra, dan Ali. Hai putera Sa'ad, tinggalkanlah mereka (Yazid dan pengikutnya) itu, dan kamu lebih baik bergabung denganku karena ini akan mendekatkanmu dengan Allah."

Umar bin Sa'ad: "Aku takut mereka menghancurkan tempat tinggalku."

Imam Husain as: "Aku akan membangunnya kalau mereka merusaknya."

Umar bin Sa'ad: "Aku takut mereka merampas kebunku."

Imam Husain as: "Kalau mereka merampasnya, aku akan menggantinya dengan yang lebih baik."

Umar bin Sa'ad: "Aku punya keluarga dan sanak famili, aku takut mereka disakiti."

Imam Husain as terdiam dan tak mau menyambung jawaban lagi. Sambil bangkit untuk keluar meninggalkan ruang pertemuan beliau berucap: "Allah akan membinasakanmu di tempat tidurmu. Aku berharap kamu tidak akan dapat memakan gandum di Ray kecuali sedikit."

Dengan nada mengejek, Umar bin Sa'ad menjawab: "Kalau aku tidak dapat menyantap gandumnya, barley-nya sudah cukup bagiku."

"Hai putera Sa'ad, jadi kamu hendak membunuhku dengan harapan dapat berkuasa di Ray dan Jirjan seperti yang dijanjikan Ibnu Ziyad. Demi Allah kamu tidak akan dapat menggapai ambisimu itu karena ayahku sudah memberitahuku tentang ini. Lakukan segala apa yang kamu inginkan karena sepeninggalku di dunia ini nanti kamu tidak akan pernah bahagia lagi. Aku seakan sudah melihat kepalamu tertancap di ujung tombak dipajang di Kufah. Kepalamu itu dilempari oleh anak-anak kecil."

Imam Husain as kemudian pergi meninggalkan Umar bin Sa'ad tanpa membawa hasil apapun dari pertemuan tersebut. Umar bin Sa'ad memang dikenal sebagai pria pandir, pengkhianat, dan pendusta. Sifat-sifat buruk ini antara lain dia perlihatkan dalam surat yang dikirimnya kepada Ibnu Ziyad. Dalam surat ini dia menyatakan: "Husain telah memutuskan untuk pulang kembali ke negerinya atau jika tidak dia akan pergi menghadap Yazid untuk menyatakan baiat." Ini jelas satu kebohongan yang dikaitkan dengan Imam Husain as, dan karenanya beliau berkali-kali menegaskan: "Sesungguhnya si anak zina (Umar) putera si anak zina itu (Sa'ad) telah menghadapkanku pada dua pilihan, mati atau hidup secara terhina. Tetapi kehinaan bagiku adalah pantangan. Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang mukmin dan salih tidak mungkin akan menerima kehinaan dan tidak menganggap kehinaan lebih baik daripada kematian dengan penuh kehormatan…"[1]

Setelah membaca surat ini, Ubaidillah bin Ziyad berkata:

"Ini adalah surat seorang pendamba kebaikan dan penyayang untuk kaumnya."[2]

Akan tetapi, begitu Ibnu Ziyad hendak membalas surat ini, Syimir bin Dzil Jausyan bangkit dan berkata kepadanya: "Apakah engkau percaya kepada kata-kata Ibnu Sa'ad sementara engkau tahu Husain tidak menjabat tanganmu untuk menyatakan baiat?" Kata-kata Syimir segera mengubah pandangannya tentang Ibnu Ziyad. Karena itu dalam surat balasannya dia menuliskan:

"Aku mengirimmu bukan untuk perdamaian, kompromi, dan mengulur urusan. Ketahuilah, jika dia menuruti perintahku maka kirimkan dia kepadaku sebagai orang yang sudah menyerah. Jika tidak, maka sikapilah dia dengan kekerasan, perangilah dia, dan jika dia sudah mati letakkan jasad di bawah injakan kaki-kaki onta….

"Jika ini kamu lakukan, berarti kamu sudah dekat denganku dan aku akan memberimu imbalan yang besar. Jika tidak maka menyingkirlah kamu dan jabatan panglima perang akan aku serahkan kepada Syimir."

Surat ini disusul dengan satu surat lagi yang menyatakan:

"Aku sudah mengirimkan pasukan yang cukup untukmu. Kamu harus melaporkan apa yang terjadi siang dan malam. Husain dan para pengikutnya jangan diberi jalan untuk mendatangi sungat ElFrat. Jangan biarkan mereka menngambil walaupun setetes."

Pada hari ketujuh bulan Muharram, Ubaidillah bin Ziyad mengirim 500 pasukan berkuda dipimpin Amr bin Hajjaj untuk memperketat penjagaan sungai ElFrat dari jangkauan Imam Husain as dan para pengikutnya. Belum cukup dengan itu, Ubaidillah alias Ibnu Ziyad itu mengirim lagi 4000 pasukan ke Karbala disertai dengan surat untuk Umar bin Sa'ad. Seperti sebelumnya, surat ini menekan Umar supaya melaksanakan tugasnya sebaik mungkin, jika tidak maka Umar harus menyingkir dan posisinya akan digantikan Syimir. Namun, kepada Syimir Umar mengatakan: "Aku akan tetap memegang komando pasukan, dan posisi terhormat ini tidak akan jatuh ke tanganmu. Biarlah kamu tetap memimpin pasukan pejalan kaki."[3]

Syimir yang merasa sudah tidak ada lagi waktu untuk berbasa-basi segera menghampiri perkemahan Imam Husain as kemudian berteriak: "Hai, dimana kalian wahai anak-anak saudara perempuanku?"[4]

Mendengar suara teriakan manusia keparat itu, Imam Husain as berkata kepada beberapa orang saudara, termasuk Abu Fadhl Abbas as: "Aku tahu Syimir adalah manusia yang fasik, tetapi karena dia masih tergolong kerabat kalian, maka jawablah teriakannya." Maka, empat orang yang bersangkutan pun menjawab: "Apa kamu maukan dari kami?!"

"Kalian adalah anak-anak saudara perempuanku. Kalian saya jamin aman asalkan kalian melepaskan diri kalian dari Husain dan patuh kepada Amirul Mukminin Yazid bin Muawiah" Pekik Syimir.

Abu Fadhl Abbas menjawab: "Apakah kamu akan mengamankanku sedangkan putera Rasul tetap diberi keamanan?![5] Semoga Allah melaknatmu beserta keamanan yang kamu miliki itu?"


[1] Bihar Al-Anwar juz 44 hal. 390 - Alluhuf hal.75

[2] Ibid juz 52 hal. 9

[3] Terjemahan (ke bahasa Persia) dari kitab Al-Irsyad karya Syeikh mufid juz 2 hal. 91-93.

[4] Nasikh Attawarikh juz 2 hal.201

[5] Bihar Al-Anwar juz 42 hal.391

ilustrasi Imam Al-Husain bin Ali

Salam kepada jasad yang berlumuran darah
Salam kepada jasad yang berhiaskan tancapan anak panah
Salam kepada kepala yang selalu diciumi kakeknya
Salam kepada orang kelima di antara ash-hâb al-kisa'
Salam kepada orang yang terasing di Karbala
Salam bagimu, wahai Aba Abdillah, al-Husain…

Kini, tibalah giliran kepala-kepala suci syuhada Karbala…
Umar bin Sa'ad memerintahkan setiap kabilah memotong kepala-kepala syuhada Karbala yang akan dipersembahkan kepada Ubaidillah bin Ziyad dengan harapan hadiah darinya. Maka, bersiaplah suku Kindah bersama panglima Qais bin Asy'ats dengan 13 potong kepala, suku Hawazin bersama tentara Syimir dengan 13 potong kepala, suku Tamim dengan 7 potong kepala, bani As'ad dengan 16 potong kepala, dan pasukan lainnya dengan sisa kepala syuhada Karbala lainnya.

Sebelum melihat Padang Karbala yang memerah lantaran darah suci para syuhada Karbala; sebelum melihat pemandangan berupa jasad-jasad tanpa kepala; sebelum menengok keadaan pasca pembantaian di Karbala; mari kita ungkapkan rasa bela sungkawa dan tawasul kita kepada orang yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya, kepada ibunda tercinta al-Husain, kekasih al-Husain… Kita ketuk pintu hati al-Zahra as. Dengan harapan, kelak kita akan dibangkitkan bersama al-Zahra as. Semoga al-Zahra hadir di tengah-tengah kita saat ini.

Demikianlah sekelumit penggalan kisah pembantaian Karbala yang menimpa Imam Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib as beserta Ahlulbait lainnya keluarga generasi pertama Sayyidina Muhammad Rasulullah SAWW, sebuah sejarah yang sangat kelam yang wajib diketahui oleh kita semua.

Selanjutnya peritiwa "Pembantaian Imam Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib" beserta keluarga Ahlulbait di Karbala" telah kami buatkan halaman khusus dalam bentuk e-Book dilengkapi dengan berbagai artikel & ulasan serta galery streaming & gambar yang kami ambil dai berbagai sumber. Mudah mudahan dengan membaca sejarah Imam Al-Husain r.a , kita semua akan mendapat pencerahan. Amin ya Robbal alamiin

"Jikalau raga diciptakan untuk menyongsong kematian, maka kematian di ujung pedang di jalan Allah jauh lebih baik dan mulia ketimbang mati di atas ranjang." (Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib as)


atman arief


LUAR BIASA...
hari ini saya mendapat satu hal yang luar biasa dari ungkapan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Ungkapan ini saya dapatkan ketika cari bahan untuk pembina upacara. hi hi hi, jadi bukan karena hobi baca yak :<. Amirul Mukminin mengatakan seperti ini : من كان في طلب العلم كانت الجنة في طلبه
yang artinya (kira-kira) gini :
"barang siapa yang sedang sibuk mencari ilmu, maka ketahuilah bahwa surga sedang merindukannya". Oh God... secara saya mahasiswa gitu lho, jadi saya termasuk yang sedang dirindukan surga.
ooooh berembun hatiku.

ali bin abi tholib

Khalifah keempat (terakhir) dari al-Khulafa’ ar-Rasyidun (empat khalifah besar); orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak; sepupu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam yang kemudian menjadi menantunya. Ayahnya, Abu Talib bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abd Manaf, adalah kakak kandung ayah Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, Abdullah bin Abdul Muttalib. Ibunya bernama Fatimah binti As’ad bin Hasyim bin Abd Manaf. Sewaktu lahir ia diberi nama Haidarah oleh ibunya. Nama itu kemudian diganti ayahnya dengan Ali.

Ketika berusia 6 tahun, ia diambil sebagai anak asuh oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam pernah diasuh oleh yahnya. ada waktu Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam diangkat menjadi rasul, Ali baru menginjak usia 8 tahun. Ia adalah orang kedua yang menerima dakwah Islam, setelah Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Sejak itu ia
selalu bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, taat kepadanya, dan banyak menyaksikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menerima wahyu. Sebagai anak asuh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, ia banyak menimba ilmu mengenai rahasia ketuhanan maupun segala persoalan keagamaan secara teoretis dan praktis.

Sewaktu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar as-Siddiq, Ali diperintahkan untuk tetap tinggal di rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan tidur di tempat tidurnya. Ini dimaksudkan untuk memperdaya kaum Kuraisy, supaya mereka menyangka bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam masih berada di rumahnya. Ketika itu kaum quraisy merencanakan untuk membunuh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Ali juga ditugaskan untuk mengembalikan sejumlah barang
titipan kepada pemilik masing-masing. Ali mampu melaksanakan tugas yang penuh resiko itu dengan sebaik-baiknya tanpa sedikit pun merasa takut. Dengan cara itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan Abu Bakar selamat meninggalkan kota Mekah tanpa diketahui oleh kaum Kuraisy.
(lagi…)

Kategori: Khulafur Rasyidin
Ditandai: , , , , ,

Utsman Bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu

April 2, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Nama lengkapnya adalah ‘Utsman bin Affan bin Abi Ash bin Umayah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf al Umawy al Qurasy, pada masa Jahiliyah ia dipanggil dengan Abu ‘Amr dan pada masa Islam nama julukannya (kunyah) adalah Abu ‘Abdillah. Dan juga ia digelari dengan sebutan “Dzunnuraini”, dikarenakan beliau menikahi dua puteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum. Ibunya bernama Arwa’ bin Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin ‘Abdi Syams yang kemudian menganut Islam yang baik dan teguh.

Keutamaannya

Imam Muslim telah meriwayatkan dari ‘Aisyah, seraya berkata,” Pada suatu hari Rasulullah sedang duduk dimana paha beliau terbuka, maka Abu Bakar meminta izin kepada beliau untuk menutupinya dan beliau mengizinkannya, lalu paha beliau tetap dalam keadaan semula (terbuka). Kemudian Umar minta izin untuk menutupinya dan beliau mengizinkannnya, lalu paha beliau tetap dalam keadaan semula (terbuka), ketika Utsman meminta izin kepada beliau, amaka beliau melepaskan pakaiannya (untuk menutupi paha terbuka). Ketika mereka telah pergi, maka aku (Aisyah) bertanya,”Wahai Rasulullah, Abu Bakar dan Umar telah meminta izin kepadamu untuk menutupinya dan engkau mengizinkan keduanya, tetapi engkau tetap berada dalam keadaan semula (membiarkan pahamu terbuka), sedangkan ketika Utsman meminta izin kepadamu, maka engkau melepaskan pakainanmu (dipakai untuk menutupinya). Maka Rasulullah menjawab,” Wahai Aisyah, Bagaimana aku tidak merasa malu dari seseorang yang malaikat saja merasa malu kepadanya”.
(lagi…)

Kategori: Khulafur Rasyidin
Ditandai: , , , , ,

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam

April 2, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kategori: Sirah Nabawiyah

Raja Fahd Bin Abdul Aziz

April 2, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Berpulangnya Penjaga Dua Kota Suci
Penulis: Ustadz Ali Musri Semjan Putra

Segala puji bagi Allah yang di tanganNya seluruh kekuasaan, bila Dia berkehendak tiada seorang pun dari makhluk yang bisa menolaknya. Shalawat dan salam kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah menyuruh kita untuk bersabar tatkala ditimpa musibah, berkata Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, “Tiada musibah yang lebih besar dari Kematian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian besar kecilnya suatu musibah yang menimpa umat diukur dengan besar kecilnya perjuangan yang dilakukan seseorang tersebut untuk agama dan umatnya.” Disebutkan dalam sebuah peribahasa: “Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan jasa.”

Pada hari senin tanggal 1 Agustus 2005 umat Islam telah kehilangan seorang yang menjadi kebanggaan mereka, yang telah berjasa dalam memperjuangkan agama dengan segala usaha dan upaya, satu satunya penguasa di dunia saat ini yang menjadikan Al Quran dan Sunnah sebagai dasar dan pandangan hidup bernegaranya serta menjadikan tujuan kekuasaannya untuk tegaknya bendera tauhid di seluruh pelosok penjuru dunia. Semoga Allah menempatkan arwah beliau di tempat yang layak di sisiNya. Amiin. (lagi…)

Kategori: Lainnya
Ditandai: , , ,

Abdurrahman Bin Auf Radhiyallahu ‘anhu

April 2, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Apa Sebabnya Anda Menangis, Hai Abu Muhammad….?

Pada suatu hari, kota Madinah sedang aman dan tenteram,terlihat debu tebal yang mengepul ke udara, datang dari tempatketinggian di pinggir kota; debu itu semakin tinggi bergumpal-gumpai hingga hampir menutup ufuk pandangan mata. Anginyang bertiup menyebabkan gumpalan debu kuning dari butiran-butiran sahara yang lunak, terbawa menghampiri pintu-pintu kota, dan berhembus dengan kuatnya di jalan-jalan rayanya.
(lagi…)

Kategori: Shahabat
Ditandai: , , ,

Abdurrahman Bin Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu

April 2, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pahlawan Sampai Saat Terakhir

Ia merupakan lukisan nyata tentang kepribadian Arab dengan segala kedalaman dan kejauhannya …. Sementara bapaknya adalah orang yang mula pertama beriman, dan “Shiddiq” yang memiliki corak keimanan yang tiada taranya terhadap Allah dan Rasul-Nya, serta orang kedua ketika mereka berada dalam gua.

Tetapi Abdurrahman termasuk salah seorang yang keras laksana batu karang menyatu menjadi satu, senyawa dengitn Agama nenek moyangnya dan berhala-berhala Quraisy ..! (lagi…)

Kategori: Shahabat
Ditandai: , , , ,

Inilah Syiah II

April 2, 2008 · 6 Komentar

Baca Bantahan Terhadap Syubhat Quburiyun, Klik File Dibawah Ini ..

Inilah Para Kuburiyun..

ya_inilah_mereka_para_kuburiyyun

Para Kuburiyun Sedang Khuyu’ Berdo’a..

para_kuburiyyun_sedang_khusu_berdoa

Sujud Di Depan Kuburan

lagi2_sujud_di_depan_kuburan

Kuburan Imam Khomeini..

kuburan_imam_khomeni

Belajar Amalan Bid’ah Sejak Dini..

belajar_amalan_bidah_sejak_dini

Gambar Imam Ali Bin Abi Thalib…Dimana Sang Pelukis Pernah Melihatnya?

gambar ali bin abi thalib

Imam Ali Dan 11 Imam Syiah

Tulisan yang di tengah atas berarti: “Wahai Ali kami memohon bantuanmu.”
Mereka meminta dan berdoa pada Ali, padahal kita diperintahkan berdoa hanya kepada Allah Semata.

imam_ali_dan_11_imam_syiah

Gambar Imam Hussein.

Dengan Pertanyaan Yang Sama..Dimana Sang Pelukis Pernah Melihatnya?

gambar_imam_al_husein

Ayatollah Khamene’i Sedang Shalat Di Depan Ayatollah Khomeini

Ayatollah Khamene’i Sholat di depan kubur Ayatollah Khomeini

Kiblat Mereka Adalah Kuburan

- Anak Panah yang menunjuk ke kiri menunjuk ke arah mimbar dan arah kiblat.
- Anak panah yang menunjuk ke kanan menunjuk ke arah kuburan.
Kita lihat orang-orang yang tampak di foto menghadapkan wajahnya ke kuburan dan membelakangi kiblat, nampaknya menghadap Kuburan lebih baik untuk beribadah dibanding menghadap kiblat.

kiblat_mereka_adalah_kuburan

Tempat Persembunyian Imam Mahdi

Coba perhatikan, kalaupun tempat ini benar merupakan tempat persembunyian Imam Mahdi.Tempat ini sangatlah mudah untuk dimasuki dan dibuka pintunya.
Mengapa Kaum Syiah tidak ada satupun yang ber “ikhtiar” mengeluarkan Imam Mahdi dari persembunyiannya?
Mengapa mereka hanya berdoa dan berdoa tanpa usaha?
Sedangkan kita tahu bahwa doa pun memerlukan usaha dari manusia.

T4 persembunyian imam mahdi